Jul 9, 2014

Kerajinan Kulit Kerang


“TIRAI kerangnya, Pak, Bu. Ini ada pigura foto buat Mas dan Mbak. Kalau ingin terus mendengar suara debur ombak Pantai Kenjeran, beli saja kerang serbung ini. Gelangnya juga cantik lho,” demikian teriakan “anak pantai” dan belasan pemilik toko suvenir yang tersebar di sepanjang jalan menuju Pantai Kenjeran maupun di dalam areal obyek wisata itu. Mereka meneriakkan kata-kata yang seperti “lagu wajib” bagi pedagang di sana berulang-ulang. Tanpa lelah dan bosan. Lazimnya obyek wisata pantai lain, Pantai Kenjeran pun tak luput dari serbuan perajin pernak-pernik khas pantai. Mulai pigura foto, lukisan, lampu, hiasan dinding, tirai, boneka, sampai aksesori seperti gelang, giwang, dan jepit rambut, banyak dijajakan pedagang. Beragam kerajinan yang menggunakan bahan baku kerang tersebut ditawarkan mulai dari harga Rp 1.000 hingga Rp 17.500. Tidak terpaut banyak dari harga dasar yang dipatok oleh puluhan perajin kerang yang tersebar di Kelurahan Tambak Deres, Kecamatan Kenjeran, Surabaya.



Para perajin dan pengusaha ini bergantung sepenuhnya pada puluhan “anak pantai” yang giat menawarkan dagangannya kepada pengunjung pantai. Di musim liburan sekolah seperti sekarang ini, jumlah pedagang bisa berlipat ganda, demikian pula kerajinan yang terjual akan meningkat pesat, sesuai jumlah pengunjung pantai yang bertambah drastis.
Memang, begitu sampai di kawasan Kenjeran pandangan mata kita akan langsung tertuju pada belasan toko suvenir yang berjajar di sepanjang jalan menuju pantai. Ada toko yang dibangun dengan serius, sehingga bangunannya kokoh, indah, dan menarik. Ada pula yang dibangun seadanya, sederhana, tanpa model yang rumit. Namun, tetap saja ada persamaan antara toko yang kecil dan sederhana dengan toko besar yang cantik, yaitu jenis kerajinan yang dipajang.
Menurut pengakuan para pemilik toko suvenir, barang-barang itu mereka dapatkan dari perajin yang tinggal di sekitar kawasan itu saja. Namun, ternyata para perajin justru mengaku bahwa mereka hanya mengerjakan sebagian kecil jenis kerajinan, yakni pigura foto, lampu, mainan sederhana, dan gelang.
Sementara kerajinan lain yang lebih rumit dan bervariasi mereka datangkan dari Situbondo, Madura, Pasir Putih, Bali, Lampung, Papua, dan Maluku.

http://youtu.be/Doac8Ii1iEE


ANJIR kerajinan kerang “impor” dari berbagai pulau itu bukan tanpa sengaja. Serbuan kerajinan kerang dengan warna-warni yang menarik itu disebabkan oleh keterbatasan kemampuan perajin lokal Kenjeran untuk membuat dan mendesain pernak-pernik.
Seorang pengusaha kerajinan terbesar di Kenjeran, Hj Choiriyah, menyebut keengganan perajin lokal untuk bersusah payah membuat pernak-pernik yang rumit adalah penyebab utama ia harus mendatangkan kerajinan dari luar daerah. Menurut pengusaha yang mempekerjakan puluhan perajin itu, para pekerja lokal hanya mampu membuat hiasan dari bahan dasar kerang dara (kerang asli Kenjeran-Red) yang berukuran besar, dengan tingkat kesulitan yang lebih rendah.+
“Sebenarnya perajin pasti bisa membuat hiasan yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengerjakannya. Tetapi, mungkin mereka kurang telaten,” sesal Choiriyah.
Para perajin mengatakan, hiasan yang paling sulit dan lama membuatnya adalah tirai, kotak perhiasan, lukisan, boneka kura-kura, vas bunga, atau patung binatang yang antara lain menggunakan bahan baku kerang kopi atau sari-sari yang ukurannya sangat kecil.
Oleh sebab itu, pembuatan tirai yang paling banyak diminati pengunjung Pantai Kenjeran pun diserahkan kepada perajin Situbondo. Tirai untuk jendela dan pintu itu dibuat dari kerang sari-sari asal Papua yang teksturnya halus. Pasalnya, perajin Situbondo diakui lebih telaten dan masih mau merangkai kerang berukuran sebesar kwaci itu dengan jarum yang halus.
Tirai halus dari bahan kerang Papua yang berwarna coklat dan hitam itu dijual Rp 7.000 dan Rp 7.500 per setel. Harga itu didasarkan atas panjang tirai, yaitu 1,5 meter dan dua meter. “Kalau menunggu perajin di sini yang membuatnya, dua minggu mungkin baru jadi satu,” canda Choiriyah.

***

GURAUAN pengusaha sukses yang telah menggeluti kerajinan kerang selama hampir 20 tahun ini memang beralasan. Pasalnya, selama Kompas menyusuri sentra kerajinan kerang tersebut, yang terlihat adalah perajin yang sedang merangkai kerang yang berukuran besar-besar. Kerang preceng, serbung, dan kerang dara itu dijadikan hiasan dengan beragam variasi.
Ada yang cukup dipercantik dengan cat atau vernis dan dijual dengan bentuk sesuai aslinya saja, ada pula yang dirangkai dengan kerang jenis lain sehingga menyerupai kuda atau manusia. Kerang yang dijual dengan bentuk seadanya saja, antara lain adalah kerang serbung yang dijual dengan harga Rp 35.000, serta kerang tiram yang dicat warna-warni sehingga lebih indah dari aslinya. Jarang sekali, atau bahkan tidak ada, perajin yang terlihat tengah merangkai kerang-kerang lembut menjadi kalung atau gelang.
Dengan jujur, Priyati (27), buruh perajin, mengakui bahwa kemampuannya hanya sampai di situ. Meskipun telah bergelut dengan kerang sejak balita, ibu satu anak ini tidak bisa dipaksa untuk merangkai pernak-pernik dari kerang halus. Maka, yang ia lakukan hanya membuat boneka dari tiga macam kerang berukuran biasa, yang dijual Rp 1.000-Rp 1.500. Untuk mengerjakan itu ia mendapat upah Rp 2.500 per lusin.
Dalam seminggu, Priyati dan belasan perajin khusus kerang besar di Kenjeran mampu menghasilkan 200-an kerajinan, mulai dari proses pencucian hingga pengemasan. Sementara dengan jangka waktu yang sama ia mampu membuat 50 pasang hiasan dinding berbentuk merak yang dijual Rp 3.500-Rp 6.500 per pasang. Bandingkan dengan proses pembuatan tirai, lukisan, atau kotak perhiasan dari Situbondo yang dalam kurun waktu yang sama maksimal hanya mampu menghasilkan 30 setel.

***

PROSES kerja perajin yang diberi upah antara Rp 250-Rp 4.000 untuk setiap kerajinan yang mereka buat ini memang panjang. Proses kerja dimulai dari membersihkan kerang yang kotor sampai menjadi putih bersih. Tahap ini membutuhkan waktu antara 12-48 jam, dengan bahan baku kaporit dan air keras.
Jangan pernah mengira bahwa kerang yang didapat para perajin dari nelayan dengan harga Rp 1.000-Rp 40.000 per kilogram itu sudah berwarna putih, seperti saat dijual di toko-toko suvenir di Kenjeran. Pada mulanya, kerang itu sangat kotor, penuh lumpur, dan agak lunak. Oleh karena itu, harus direndam semalaman dalam larutan kaporit dan air keras agar berwarna putih dan kaku. Selanjutnya, barulah perajin dapat mendesain dan membentuk kerang menjadi beraneka macam kerajinan seperti yang diinginkan pemesan.
Menurut Nasiati (50), bahan baku utama untuk membuat pernak-pernik kerang adalah lem dan cat. Lem yang digunakan pun adalah lem khusus, yang dibuat dengan campuran tepung kanji (tepung sagu) dengan perbandingan lem dan tepung 10:8. Sementara cat yang digunakan untuk membuat boneka adalah cat minyak, cat besi, atau cat kayu biasa. Sedangkan untuk mewarnai kerang agar lebih menarik, digunakan cat khusus, seperti yang digunakan untuk mengecat batu-batu hiasan taman.

***

BAGI perajin kerang Kenjeran, tahapan kerja seperti itulah yang sering dan dapat mereka lakukan. Sementara pekerjaan meronce dan merangkai kerang-kerang yang berukuran halus tidak pernah mereka sentuh. Mereka tidak peduli bahwa dari pekerjaan yang membutuhkan “sedikit” ketelitian dan ketelatenan lebih itu mereka juga dapat memperoleh uang lebih.
Buktinya, upah yang diberikan pengusaha kepada perajin yang dapat membuat lampu atau lampion yang sedikit lebih rumit dibanding boneka biasa, besarnya hampir 10 kali lipat dibanding upah membuat pigura foto. Hampir bisa dipastikan, jika mereka mau membuat kerajinan dari kerang halus yang lebih rumit, pasti upah yang mereka terima lebih besar lagi.
Namun, perajin lebih memilih bekerja ringan dengan upah yang lebih kecil dibanding jika harus bekerja ekstra hati-hati dengan upah besar. Mereka umumnya berpendapat bahwa upah yang kecil itu bisa menjadi besar jika jumlah kerajinan yang mereka hasilkan banyak. Sementara upah yang besar akan terasa kecil apabila jumlah kerajinan yang dihasilkan hanya sedikit.
“Selain itu, kami juga tidak ingin kerajinan di sini cuma itu-itu saja. Mau tidak mau, kami harus mendatangkan kerajinan dari daerah lain, seperti Situbondo, Pasir Putih, dan Bali, agar pengunjung melihat bahwa kerajinan kerang yang kami tawarkan banyak macamnya. Tidak kalah dengan kerajinan di Bali, Jakarta, atau Yogyakarta. Jadi, kalau memang kami harus berbagi rezeki dengan perajin dari kota lain, tidak masalah bukan?” kata Umi (40) tenang, setenang geliat usaha kerajinan kerang di Kenjeran. (RACHMA TRI WIDURI)

0 comments: